Kisah Seorang Juri: Antara Karut dan Lega

Oleh: Abdul Rahman Nasir

Menjelang sholat Ashar pada Rabu (11/03/2026), sebuah notifikasi pesan singkat pada aplikasi WhatsApp penulis dari seorang panitia pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah setempat. Pesannya memang singkat, permohonan juri lomba resensi buku. Lima hari sebelumnya, sudah terlebih dahulu diajak oleh salah satu pegiat literasi Bangka Selatan untuk membantu teman-teman di perpustakaan daerah. Namun, penulis tidak begitu yakin jika akan didaulat menjadi penentu pemenang lomba yang dimaksud. Karena, penulis yakin ada banyak pegiat literasi di Bangka Selatan yang jauh lebih senior dengan karya-karya agung yang diakui oleh media dan penerbit nasional. Mereka lebih layak dan kompeten untuk menjadi penentu pemenang lomba ini.

Flyer Pemenang dari Panitia Lomba


Ba’da sholat Ashar kala itu, permohonan itu 
penulis terima. Satu-satunya pertimbangan, membantu kesuksesan acara perpustakaan daerah. “Kite bantu kawan-kawan Pusda ok!” (Kita bantu kawan-kawan di Perpustakaan Daerah, ya!)” Pesan pegiat literasi yang mengajak penulis untuk menjadi juri lomba ini. Karena alasan ini, dengan mengucapkan bismillah semoga tidak mengecewakan. Penulis juga sempat mempertanyakan kriteria juri yang diinginkan dan dipersyaratkan panitia. Ternyata, salah satu kriterianya adalah pegiat literasi lokal non guru yang telah menerbitkan karya dalam bentuk buku.

Kurang dari 11 hari tepat tiga bulan berlalu, pasca-permohonan itu, sunyi—tidak ada kabar sekedar perkembangan perlombaan dari panitia. Penulis mencoba membuka kembali flyer dari panitia yang menghubungi kala itu. Informasi yang tertera pada flyer dan petunjuk teknis lomba, seharusnya penilaian naskah resensi dari peserta sudah dimulai pada 01 Juni 2026. Namun, sampai sore tanggal 02 Juni 2026 belum ada kabar apapun baik dari panitia maupun dari pegiatan literasi yang mengajak penulis kala itu. Rasa senang sempat menghampiri. Tugas berat akhirnya tidak menjadi beban dipundak penulis. Kurang dari 24 jam, rasa senang itu berubah menjadi karut seketika. Pada 03 Juni pagi, sebuah notifikasi grup baru pada WhatsApp, Juri Lomba Resensi 2026. Lengkap dengan tautan karya peserta lomba yang harus dilakukan penilaian.

Penulis mencoba mengakses tautan karya peserta di sela-sela kesibukan rutinitas pekerjaan kantor. Namun, semua masih bersifat akses terbatas atau privat. Dengan jumlah peserta puluhan yang harus dilakukan penilaian dalam waktu 5 hari, sebab tanggal 8 Juni 2026 penjurian final dilakukan untuk menentukan 3 pemenang pada masing-masing kategori. Konfirmasi dilakukan ke panitia terkait tautan naskah resensi peserta  yang belum bisa diakses, hanya bisa mengakses video resensi peserta. Waktu yang singkat tersebut, rasa karut semakin menjadi. Ada rasa tidak percaya diri penulis dapat menyelesaikan tugas yang diamanahkan dengan baik.

Malam hari tanggal 3 Juni 2026, panitia mengabarkan jika semua naskah sudah dapat diakses. Penulis mulai melakukan penilaian satu per satu naskah. Demikian juga dengan video resensi peserta. Sebuah buku catatan penulis yang berisi ketentuan lomba dan pedoman penilaian, bertulis tangan. Buku ini menjadi pijakan penulis dalam memberikan skor pada setiap dimensi penilaian. Dan rasa karut kembali menyelimuti suasana penulis, pada 05 Juni 2026 pagi menjelang siang, format penilaian lomba resensi baru saja dikirim panitia di grup WhatsApp. Tentu, format dari panitia berbeda dengan format yang penulis inisiatif sendiri. Kacau!  Penulis harus mengulang kembali penilaian naskah dan video resensi. Waktu penilaian semakin singkat. Sementara penulis hanya dapat melakukan penilaian di luar jam kerja, karena kondisi pekerjaan rutin yang tidak bisa diabaikan terlebih dahulu.

Kondisi semakin karut! Setelah penulis memperhatikan surat undangan untuk hadir dalam rapat penjurian penentuan pemenang, ternyata pegiat literasi yang mengajak penulis untuk menjadi juri lomba ini hilang dari daftar undangan. Semakin mengurangi rasa percaya diri penulis, juri pengganti merupakan pegiat literasi senior dari Bangka Selatan yang sudah puluhan tahun mengeluti dunia literasi dan budaya. Beliau adalah Datuk Kulul. Lengkap sudah! 2 Datuk menjadi juri dalam lomba ini, dan dua-duanya namanya sudah mengangkasa di level nasional. Dibandingkan penulis yang baru seumur jagung dan menggeluti literasi hanya sekedar hobi.

Penulis menghubungi pegiat literasi yang namanya hilang dari daftar juri lomba. Menyampaikan kekecewaan penulis. Beliau menyampaikan permohonan maaf, sebab memiliki agenda lain yang bersamaan. Penulis menarik napas Panjang. Ada bisikan agar penulis juga ikut mengundurkan diri. Tapi, bisikan itu ditepis dengan pertimbangan waktu untuk mencari juri pengganti tidak memungkinkan lagi. Terlebih salah satu juri, Datuk Rusmin Sopian, getol menyemangati juri. “Untuk kawan-kawan juri. Semangat menilai.” Demikian salah satu bunyi pesan beliau di grup WhatsApp Juri.

Rasa tanggung jawab atas amanah dan kepecayaan yang diberikan, penulis mencoba maksimal. Dua hari—kebetulan hari libur Sabtu dan Minggu—menjelang rapat penentuan pemenang, penulis memfokuskan diri pada  penilaian lomba ini. Membaca setiap naskah resensi peserta, membandingkan video yang sudah di unggah peserta pada channel youtube masing-masing. Memperhatikan kepatuhan terhadap ketentuan setiap naskah dan video. Membaca nalar dan kewajaran kreativitas yang dihasilkan peserta. Memastikan karya bukan hasil plagiat. Proses penilaian ini penulis finalkan malam sebelum rapat 8 Juni 2026 dilaksanakan.

Hari penentuan pemenang, penulis tiba di lokasi rapat tepat sesuai waktu yang dijadwalkan dalam undangan panitia. Rasa karut dan tidak percaya diri akan berhadapan dengan dua Datuk Punggawa literasi Bangka Selatan, sidang menentukan pemenang. Rapat penentuan pemenang baru dimulai 1 jam kemudian dari jadwal semula. Penentuan pemenang kategori SMP sempat alot, sebab 3 besar kandidat semua dari jagoan penulis. Sedangkan jagoan 2 datuk, tak satupun yang masuk radar. Ternyata, panitia baru memasukan hasil penilaian dari penulis dan penilaian 2 juri lainnya belum diakomodir.

Setelah panitia menggabungkan hasil penilaian ketiga juri lomba dan mendapatkan kandidat pemenang, diskusi berlanjut dengan menyampaikan masing-masing argumen juri dari hasil penilaian kandidat pemenang. Dari penilaian naskah resensi, penulis menilai peserta masih sangat perlu mendapat bimbingan dari guru di sekolah. Namun, hal berbeda dari video resensi peserta yang sangat kreatif. Bahkan ada beberapa video peserta yang melampaui batas kemampuan dan kewajaran usia peserta. Dengan memperhatikan setiap kepatuhan ketentuan, penilaian kreativitas dan kewajaran, akhirnya pemenang ditetapkan tepat saat adzan Zuhur berkumandang.

Dari catatan ini, penulis mendapatkan banyak pelajaran, baik saat melakukan penilaian mandiri terlebih saat bertemu 2 datuk senior Punggawa Literasi Bangka Selatan, Datuk Rusmin Sopian dan Datuk Kulul, untuk melakukan penilaian penentuan pemenang. Awalnya penulis dipenuhi rasa karut dan tidak percaya diri, namun berakhir dengan rasa lega. Dua datuk merupakan orang hebat yang mampu merangkul pemula, seperti penulis, untuk terus percaya diri, berkarya. Pemenang telah ditetapkan oleh juri, pengumuman pemenang  juga telah disampaikan panitia, selamat untuk pemenang dan seluruh peserta. Semoga literasi Bangka Selatan semakin maju!


No comments:

Post a Comment