WAG GPMB Menjadi Cahaya bagi Penulis Bangka Selatan

Oleh: Abdul Rahman, Anggota WAG GPMB Bangka Selatan


Di penghujung tahun 2024, tepatnya 30 Desember 2024 sekira pukul 11 siang sebuah pesan masuk di aplikasi berklir hijau WhatsApp "Gabung di grup GPMB, ok🙏" sebuah ajakan untuk bergabung pada WhatsApp Grup (WAG) khusus penulis atau pegiat literasi.

Saya tak langsung mengiyakan ajakan salah satu senior birokrat di Bangka Selatan ini. Saya  belum pantas disebut sebagai penulis, alasanku!

"Men ukan kite, hape agek di Basel yg nk ngangkat literasi ni 🙏🏻 (Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau mengangkat literasi di Basel)." Membaca pesan ini, aku langsung menjawab, "Boleh kalo sekedar bergabung." Bergabung untuk menyimak, belajar, dan menambah wawasan dari para pegiat literasi senior Bangka Selatan, bukan menjadi anggota yang aktif. 

Sebelum bergabung di grup yang dinamai "Gerakan Pembudayaan Minat Baca--GPMB ini, saya sudah bisa menebak di dalam sana tentu ada Pak Rusmin Sopian. Semua tau sepak terjang seorang Rusmin Sopian di dunia kepenulisan. Tulisannya bisa dinikmati di berbagai media lokalß dan nasional, baik fiksi maupun non fiksi. Selain produktif menulis di berbagai media, beliau juga sudah menerbitkan beberapa buku, diantaranya: Pemimpin yang Dirindukan, Kumpulan Cerpen: Penjaga Makam. Coba saja searching di google dengan kata kunci " Rusmin Sopian" maka akan muncul puluhan link yang menampilkan tulisan beliau. Dan, salah satu yang membuat saya hanya sanggup sekedar bergabung, ya ini--Pak Rusmin Sopian. 

Sebuah kisah, suatu hari beberapa tahun yang lalu, saya mendapat pesan dari surat elektronik, email. Pesannya lebih kurang begini, "Karena rubrik cerpen di bawah asuhan Bapak Rusmin, maka silakan sampaikan terlebih dahulu cerpen Bapak ke Pak Rusmin untuk diseleksi layak atau tidak untuk dimuat...." Pesan ini menjawab email yang saya kirim pada salah satu media di Babel yang biasa memuat cerpen. Saya menjawab email itu, " Jika berkenan, bolehkah saya minta alamat email Pak Rusmin?" Dan saya tunggu balasannya, beberapa hari tidak ada tanggapan. Sampai akhirnya cerpen itu saya kirim ke salah satu media di Sumatera, beberapa minggu kemudian dikabari jika cerpen receh itu telah terbit lengkap dengan file bukti terbit. Dari sini, saya sangat mahfum jika Pak Rusmin bukan sekedar penulis biasa. Ternyata beliau juga seorang "Juri" cerpen di salah satu media ternama di Babel, dan tentunya tak semua orang penulis diberika kepercayaan melakoninya. Wajar tak semua orang dapat meminta alamat emailnya--waktu itu belum ada aplikasi WhatsApp--terlebih orang seperti saya yang tak dikenal orang.

Setelah saya bergabung di WAG GPMB, yang diundang langsung oleh Pak Rusmin melalui link. Saya langsung menuju profil WAG ini. Dari profil ini ternyata WAG GPMB sudah lama dibuat, tepatnya 24 September 2021. Dan di sana ada para senior-senior penulis dan pegiat literasi Bangka Selatan. Ada Bapak Jasman Jalil. Beliau Penulis senior Bangka Selatan bahkan Babel. Awal saya mengirim tulisan di media, terinspirasi dari beliau dan terus saya ikuti tulisan-tulisannya yang memicu saya untuk terus belajar menulis. Kesibukannya menjadi seorang guru--sekarang Kepala Sekolah (Januari 2025), beliau masih menelorkan  beberapa buku yang menjadi rujukan bagi guru-guru bukan hanya di Bangka Selatan, bahlan guru seluruh Indonesia. Diantara bukunya yang pernah saya lihat, Panduan Penyusunan Karya Ilmiah: Cara Mudah Naik Pangkat Guru, Kompetensi Guru dan Mutu Pembelajaran, Pendidikan Islam: Perkembangam dan Pengembangannya, Supervisi Pembelajaran Teknik Coaching dan berbagai tulisan populernya di berbagai media. Beliau juga pernah mengisi halaman inspirasi Koran Bangka Pos, kolom 1 halaman penuh yang mengulas kisah tokoh inspirasi di Bangka Belitung, yang dimuat setiap akhir pekan. Bahkan pada tahun 2021, beliau masuk dalam daftar Penulis pada Ensiklopedia Mini Penulis Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam WAG ini, ada juga Bapak Kulul Sari, pegiat literasi dan budaya Bangka Belitung. Ada Bapak Agustian Deny Ardiansyah, seorang guru berprestasi tingkat Nasional dengan tulisannya yang sangat berbobot di berbagai media. Selain itu, ada Bapak Toni Pratama, penulis Novel "Cinta di Bawah Tudung Saji" yang sekarang sedang sibuk melayani permintaan bedah novelnya dari berbagai penjuru Nusantara. Tak ketinggalan ada wartawan senior sekaligus ketua Persatuan Wartawan Indonesia Bangka Selatan, Bapak Dedi Irawan. Dan birokrat penulis, Bapak Hendrawan, penulis buku "Kumpulan Artikel: Fenomena Perilaku Organisasi Pemerintah" yang sangat aktif menulis dengan target tulisan sepekan minimal 1 artikel dan satu puisi terbit di media. Serta banyak lagi anggota lainnya yang tidak saya sebutkan satu persatu, dan ternyata mereka semua sangat produktif dalam menulis.

WAG GPMB tidak hanya diisi oleh penulis atau pegiat literasi yang ada di Bangka Selatan, juga terdapat punggawa Kabupaten Bangka Selatan, yakni Bapak Riza Herdavid. Ada juga Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Selatan, Bapak Sumadi. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang Kepala Dinas, Bapak Sumadi menyempatkan untuk menanggapi berbagai percakapan yang ada dalam WAG termasuk menyampaikan informasi terkait literasi.

WAG ini selain untuk meningkatkan minat baca di Kabupaten Bangka Selatan, juga menjadi wadah untuk saling memberikan dukungan kepada penulis-penulis yang ada di Bangka Selatan. Terbukti, melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Selatan, buku-buku hasil karya Penulis Bangka Selatan akan dipamerkan pada rangkaian acara HUT Bangka Selatan ke-22 di Perpustakaan Daerah Bangka Selatan pada 30-31 Januari 2025. 

Menjadi anggota baru dan berada di antara para senior tentu tidak sembarangan untuk bertindak. Namun, bukan berarti diam tanpa tindakan. Hadirnya saya di WAG tersebut meskipun menjadi anggota pasif--yang hanya "mengintip" percakapan grup tanpa berkomentar apapun--membuat lampu menulis yang beberapa tahun belakangan meredup kembali bercahaya. Saya kembali menggoreskan beberapa tulisan, meskipun tulisan-tulisan itu hanya saya goreskan pada blog pribadi ini. Saya kembali membuka beberapa draf tulisan yang mangkrak beberapa tahun belakangan, termasuk rencana untuk melanjutkan novel yang berhenti pada chapter 6--mangkrak 4 tahun. 

Selama ini, menulis hanya menjadi sebuah pelampiasan tanpa ada target. Setelah bergabung pada WAG ini, ternyata penulis senior sepertinya memiliki target tulisan yang harus diselesaikan dalam sehari, sepekan, sebulan bahkan dalam 1 tahun.

Sembari menulis kisah receh ini, saya berharap suatu saat GPMB Bangka Selatan bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Selatan memiliki usaha penerbitan buku sehingga tulisan-tulisan karya penulisan Bangka Selatan dapat diterbitkan tanpa harus menerbitkan pada penerbit-penerbit di luar daerah. Semoga!!!


No comments:

Post a Comment