Karya: Abrah Ns
(Dimuat di koran Republika edisi 29 Maret 2026)
![]() |
| Ilustrasi: Republika.id |
Di sebuah desa yang tampak sejuk dengan pepohonan yang rindang meneduh tanaman Sahang yang berjejeran, berdiri sebuah rumah panggung berdinding rumbia pun dengan atapnya. Di kolong rumah panggung yang beralaskan bambu dengan luas 35 meter persegi itu, Pak Munaja memarkirkan motornya setelah kembali melaut semalaman. Keriput tangan bekas air laut, bercampur dengan aroma asin khas nelayan, ia memilah-milah hasil tangkapannya.
Di
atas, Bu Minah tengah bersiap memasak nasi untuk makan siang. Bujang duduk di
lantai beralaskan tikar purun, mengerjakan tugas sekolah. Sinar matahari yang
mulai panas, namun terasa sejuk di dalam rumah yang beratap dan berdinding
rumbia.
“Mak,
Bapak sudah pulang. Itu sudah di bawah.” Bujang bergegas menuju tangga untuk
turun membantu bapaknya yang baru tiba dari melaut. Bu Minah menyusul dengan
membawa baskom untuk mewadahi ikan.
“Sebagian
sudah Bapak jual. Ini untuk kita makan.” Wajah Pak Munaja tampak bahagia,
meskipun rasa lelah setelah semalaman berjuang melawan gelombang laut yang tak
menentu.
Bu
Minah dengan cekatan mengambil hasil tangkapan Pak Munaja dari dalam ragak
cerampang plastik yang sudah tampak pacah sebagian. Satu persatu ikan dan
juga beberapa cumi-cumi ukuran sedang dimasukkan dalam baskom.
“Cuminya,
kenapa gak dijual Pak?” Bu Minah bertanya penasaran, biasanya Pak Munaja
lebih memilih menjual cumi-cumi karena nilai jual yang tinggi dan lebih mudah
dijual.
“Untuk
kita makan aja, Ey! Sesekali kan kita juga mau.” Pak Munaja berjalan ke tangga
rumah menuju ke atas. Angin menjelang siang bertiup cukup kencang. Tanaman
Sahang yang tumbuh di belakang rumah tampak bergoyang-goyang tertiup angin. Ia
berhenti di teras, duduk di atas kursi kayu yang tampak sudah mulai rapuh,
bikinannya sendiri. Matanya mengamati satu persatu rumpun Sahang, memperhatikan
jika ada yang akan tumbang karena junjungnya sudah rapuh.
“Pak, gak
langsung mandi? bersih-bersih?” Bu Minah mencoba mengingatkan suaminya yang
tidak langsung mandi sepulang dari melaut.
“Bentar
lagi! Sahang ada yang tumbang, Ey?" Bapak Munaja memanggil istrinya dengan
panggilan Ey. Kencangnya angin musim barat di bulan Oktober ini menjadi masalah
utama bagi petani Sahang. Dipastikan banyak rumpun-rumpun Sahang yang
bertumbangan. Apalagi jika menggunakan junjung dari kayu yang mudah rapuh.
Pandangan
Pak Munaja terus tertuju pada rumpun-rumpun Sahang yang berjejer di sekitar
rumah panggungnya. Dedaunan yang mulai menguning akibat dilanda musim kemarau
yang tak kunjung hujan. Dalam pikiran ia berdilaog dengan Tuhan, "Ya Allah
turunkan hujan agar Sahang-Sahangku tidak mati, suburkan agar dapat berbuah
lebat." Tidak banyak keinginan yang
diharapkan dari Pak Munaja, menginginkan anaknya dapat bersekolah agar dapat
meraih cita-citanya, dan menyimpan uang sedikit demi sedikit untuk mendaftar
berangkat haji. Meskipun hanya dari hasil melaut dan kebun Sahang.
Musim
berhaji tiba, Pak Munaja mendapat kabar jika keponakannya, anak kakak
perempuannya akan berangkat pada musim haji tahun ini. Selain membuka toko klontong,
suami keponakannya ini juga seorang penghulu kampung. Kebun Sahangnya juga
terhampar luas, 5 hektar, semuanya berbuah dengan hasil ribuan kilo setiap
musim panen. Dalam hatinya Pak Munaja berpikir, memang sudah sewajarnya jika
keponakannya itu berangkat haji, kehidupannya sudah cukup mapan. Berbeda dengan
ia yang kehidupan sehari-hari saja masih sering kesulitan membeli beras. Terkadang
hanya mengkonsumsi singkong rebus. Singkong ditanam pada sela-sela rumpun
Sahang yang sewaktu-waktu ubinya dapat diambil pengganti beras dan daun
pucuknya sebagai sayuran. "Ah, jika Allah berkehendak tidak ada yang tidak
mungkin, aku bisa berangkat haji bersama istri, entah kapan!"
****
Empat
puluh satu hari menjalankan prosesi berhaji, keponakan Pak Munaja tiba kembali
ke kampung halaman. Pak Munaja ikut menjemput kedatangannya di bandara,
menempuh perjalanan hampir enam jam, menggunakan mikrobus P.O. Sabang yang
disewa keluarga keponakannya. Penjemput penuh berdesakan dalam satu mobil.
Jalanan yang dilalui sebagian masih tanah merah belum beraspal, menambah
lamanya menempuh perjalanan. Jika sudah beraspal dipastikan dapat ditempuh
hanya dalam dua setengah jam saja.
Satu
persatu isi koper ole-ole Haramain dikeluarkan, pun juga satu persatu
tetangga dan keuarga datang silih berganti. Air zam-zam menjadi ole-ole
yang paling diharapkan. Seteguk air zam-zam dan sebutir kurma yang masuk ke
tenggorokan setiap yang minum menjadi pancaran kebahagian di wajah mereka.
Sebagian anak-anak keluarga dekat, seperti Bujang, anaknya Pak Munaja
mendapatkan kodak dengan film miniatur masjidil Haram, masjid Nabawi, ilustrasi
jamaah yang mencium Hajar Aswad, dan suasana di Jabal Rahmah saat jamaah
melaksanakan wukuf. Pak Munaja mendapatkan ole-ole istimewa, songkok
haji, songkok putih khas Madinah.
Pak
Munaja terdiam sejenak. Ia terharu mendapatkan songkok haji. Diciumnya songkok
dengan aroma wewangian khas Madinah, Attar. Pandangannya menerawang jauh
ke depan, entah apa yang ada dalam pikirannya.
***
Duapuluh
satu tahun kemudian, Pak Munaja dan Bu Minah mendaftar haji setelah dengan
sabar mengumpulkan hasil jerih payah melaut dan bersahang. Kebahagian terpancar
dari wajah suami istri ini, secerah sinar matahari di tengah siang bolong.
Pendaftaran dilakukan dan didampingi oleh anaknya, Bujang. Maklum, Pak Munaja
dan Bu Minah hanya berpendidikan sekolah rakyat yang tak tamat. Untung-untung
bisa baca tulis dan tandatangan.
Sesampai
di rumah setelah mendapatkan nomor porsi haji. Pak Munaja bergegas menuju
lemari berbahan triplek tebal. Ia mencari kunci lemari berwarna biru muda yang
sudah tampah dimakan usia itu.
"Bu,
kunci lemari ini disimpan di mana?"
Bu
Minah segera menghampiri Pak Munaja dan menunjukkan kunci berwarna keemasan.
Pak
Munaja membuka lemari, tangannya mencoba meraih sesuatu dari laci lemari itu.
Satu persatu laci lemari dibuka. Dan terakhir ia membuka koper berwarna hitam
yang tergeletak di rak lemari paling bawah. Ia pelan-pelan memutar-mutar nomor
kode pada koper itu dan kemudian meraih sebuah benda berwarna putih terbungkus
kantong plastik bening dari dalam koper. Dengan sumringah, ditunjukkannya pada
Bu Minah, "Bu, songkoknya masih wangi."
Bu
Minah hanya tersenyum. Ia paham apa yang dimaksud suaminya. Diambilnya songkok
putih dari tangan suaminya, disimpan kembali ke dalam koper hitam yang dipenuhi
tumpukan buku-buku beraksara arab gundul.
Sewaktu
masih lajang sampai memiliki anak berumur 5 tahun, Pak Munajah aktif mengikuti
pengajian kitab kuning yang digelar mingguan di kampung. Ia berhenti mengikuti
pengajian setelah guru mengajinya meninggal dunia. Tidak ada muridnya yang
dapat meneruskan pengajian itu. Konon, gurunya belajar langsung dari negeri
Jiran Malaysia, seorang kyai yang pernah menimba ilmu di Makkah. Buku yang ada
dalam koper hitam itupun sebagian berbahasa Melayu Malaysia beraksara arab
gundul.
Tak
jarang Pak Munaja memberikan nasehat pada anaknya berdasarkan ilmu yang
dipelajarinya saat mengaji kitab gundul. Seringkali yang disampaikan Pak Munaja
tidak dipelajari di bangku sekolah, namun penting menjadi pedoman dalam
kehidupan sehari-hari.
"Nak,
kalo masuk masjid sebelum sholat carilah posisi yang tidak mengganggu orang
lewat seandainya tidak ada sutrah yang dapat digunakan untuk menjadi pembatas.
Karena lewatnya orang depan orang sholat akan menjadi dosa bagi yang lewat yang
disebabkan oleh yang sholat tanpa sutrah."
Nasehat
ini disampaikan Pak Munaja pada Bujang suatu ketika. Bujang hanya mengiyakan
saja. Ia tidak pernah berpanjang lebar apa yang dinasehatkan padanya. Termasuk
ketika ia dilarang Pak Munaja memakai songkok putih, songkok haji pemberian
ayah temannya.
"Nak,
lepaskan songkok yang kamu pakai itu. Songkok hitammu masih ada, kan?"
Bujang
segera melepaskan songkok putih yang ia kenakan. Ia meminta maaf dan
menggantinya dengan songkok hitam, songkok nasional yang ia simpan di lemari
triplek tebal berwarna biru lusuh itu.
Sepuluh
tahun sejak Pak Munaja mendaftar haji, namun belum ada panggilan dari Kantor
Kementerian Agama yang mengurusi jamaah haji Indonesia. Terlebih wabah penyakit
Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Keberangkatan haji tahun ini
terpaksa ditunda. Akan semakin menambah rentanya Pak Munaja. Dalam pikiran Pak
Munaja, bahkan sering dilontarkan berulangkali ke Bu Minah dan anaknya, Bujang,
kondisi badannya yang sudah semakin menua, akan semakin sulit untuk berangkat
haji. Namun, baik Bu Minah maupun anaknya selalu menyemangatinya.
"Bapak
harus tetap semangat. Obatnya jangan lupa di minum. Insya Allah Bapak
dan Ibu tetap bisa berangkat!"
"Entahlah,
Nak! Bapak sudah sakit-sakitan seperti ini. Kalo tahun ini dari
Indonesia tidak ada yang berangkat haji, artinya jadwal keberangkatan Bapak
akan semakin mundur."
Bujang
tak putus asa memberikan semangat pada bapaknya. Sembari menyuapi nasi bubur,
Bujang bercerita jika keberangkatan haji akan ada petugas yang mendampingi
jamaah lansia.
"Bapak
jangan khawatir, nanti ada petugas yang khusus mendampingi. Mereka sudah
dilatih untuk mendampingi dan mengurus keperluan jamaah lansia."
"Tapi
itu nanti pasti butuh tambahan biaya lagi, kan?" Pak Munaja
memikirkan tambahan biaya yang harus dipersiapkan. Sedangkan biaya haji yang
akan disetor jika sudah masuk daftar keberangkatan selalu mengalami kenaikan.
Uang simpanan Pak Munaja hasil melaut dan bersahang dan terakhir menjual tanah
kebun untuk persiapan keberangkatan dikhawatirkan tidak cukup. Kebun yang dulu
tempat berdiri rumah panggung, rumah tinggal membesarkan anaknya, kini sudah dijual
ke seorang pengusaha tambang Timah.
Dan takdir
hanya Tuhan yang tahu. Menjelang sholat Subuh pada 23 Dzulkaiddah saat itu, Pak
Munaja menghembuskan nafas terakhirnya. Karena penyakit yang dideritanya. Ia
pergi untuk selamanya sebelum songkok Istimewa impiannya itu sah digunakannya.
"Nak,
lepaskan songkok putihmu itu! Kamu belum berhak memakainya. Kamu tau ikhwal
songkok putih itu? Itu dihadirkan untuk membedakan orang yang sudah berhaji dan
orang biasa. Jadi, jangan kamu bohongi dirimu dan orang lain karena songkok
itu." Pesan itu berbekas tak hilang dalam ingatan Bujang.
Pak
Munaja telah tiada. Namun, Songkok putih, songkok haji istimewa itu tersimpan
rapih dan akan dipakai Bujang ketika telah melaksanakan ibadah haji di Tanah
Suci Makkah.
Songkok Istimewa

No comments:
Post a Comment